Tampilkan postingan dengan label Materi Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Dasar. Tampilkan semua postingan

08/09/10

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT (PPGD)

Pendahuluan
Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD) adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam rangka menyelamatkan pasien dari kematian.
PENOLONG PERTAMA adalah masyarakat awam yang sudah dibekali pengetahuan teori dan praktek bagaimana merespon dan melakukan pertolongan pertama di lokasi kejadian
  • Kita tidak dapat selalu mengandalkan layanan ambulan atau para medik segera tiba dilokasi kejadian
  • Alat dan waktu yang kita miliki terbatas

Tujuan PERTOLONGAN PERTAMA adalah:
1. Menyelamatkan nyawa korban
2. Meringankan penderitaan korban
3. Mencegah cedera/penyakitmenjadi lebih parah
4. Mempertahankan daya tahan korban
5. Mencarikan pertolongan yang lebih lanjut

RANTAI PENYELAMATAN RANTAI PENYELAMATAN adalah konsep yang menjelaskan tahapan secara prioritas untuk memastikan korban memiliki kesempatan terbaik untuk bertahan hidup
Realita menunjukkan bahwa bila kita dapat segera mengidentifikasi masalah, akses dini ke Unit Gawat Darurat dan memberikan bantuan dengan benar dan baik kepada korban maka besar pula kesempatan korban terselamatkan

AKSES DINI (Rantai Pertama), Keadaan Darurat diketahui dan melaksanakan prosedur keadaan darurat. Saksi mata yang mengetahui kejadian menghubungi pihak yang berwenang (bila di tempat kerja sesuai dengan prosedur keadaan darurat yang sudah ditetapkan)
Pelaporan berisi :
- Nama Pelapor
- Lokasi Kejadian
- Kondisi korban (sadar/tidak sadar)
- Cidera yang dialami
- Jumlah korban, dst

BANTUAN HIDUP DASAR DINI (Rantai Kedua), adalah cara mempertahankan jalan napas, memberikan bantuan napas dan mempertahankan sirkulasi yang merupakan dasar kehidupan tanpa menggunakan peralatan medis. Henti jantung mendadak adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia (700.000 orang/tahun). Kasus henti jantung mendadak di luar rumah sakit menunjukkan Ventricular Fibrillation (Jantung kehilangan kemampuan untuk berkoordinasi dan berhenti memompakan darah secara efektif)

DEFIBRILASI DINI (Rantai Ketiga), adalah upaya agar mengembalikan agar irama/fungsi jantung kembali normal dengan Defibrillator. Penolong Pertama dan Petugas Medis harus sudah terlatih dalam penggunaan Defibrillator. Defibrillator yang digunakan sebaiknya defibrillator ekternal otomatis (operator/petugas hanya menempelkan elektroda ke dada korban dan diaktifkan dengan satu tombol)

BANTUAN HIDUP LANJUT DINI (Rantai Keempat), Adalah tindakan khusus lanjutan yang diperlukan untuk meningkatkan kemungkinan korban bertahan hidup. Tim bantuan hidup lanjut adalah tim dokter dan para medik yang kompeten

Prinsip Utama
Prinsip utama PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian pada kondisi gawat darurat. Kemudian filosofi dalam PPGD adalah ”Time Saving is Life Saving”, dalam artian bahwa seluruh tindakan yang dilakukan pada saat kondisi gawat darurat haruslah benar-benar efektif dan efisien, karena pada kondisi tersebut pasien dapat kehilangan nyawa dalam hitungan menit saja (henti nafas 2-3 menit dapat mengakibatkan kematian)

Langkah-langkah Dasar
Langkah-langkah dasar dalam PPGD dikenal dengan singkatan A-B-C-D (Airway – Breathing – Circulation – Disability). Keempat poin-poin tersebut adalah poin-poin yang harus sangat diperhatikan dalam penanggulangan pasien dalam kondisi gawat Darurat.

Alogaritma Dasar PPGD
1. ada pasien tidak sadar
2. pasikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong
3. beritahukan kepada lingkungan kalau anda akan berusaha menolong
4. cek kesadaran pasien
lakukan dengan metode AVPU
  • A : Alert => Korban sadar, jika tidak sadar lanjut ke poin V
  • V : Verbal => cobalah memanggil-manggil korban dengan dengan berbicara keras di telinga korban (pada tahap ini jangan sertakan dengan menggoyang atau menyentuh pasien), jika tidak merespon lanjut ke poin P
  • P : Pain => cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling mudah adalah menekan bagian putih dari kuku tangan (di pangkal kuku, selain itu dapat juga dengan menekan bagian tengah tulang dada (sternum) dan juga areal di atas mata (supra orbital)
  • U : Unresponsive => setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien masih tidak bereaksi maka pasien berada dalam keadaan unresponsive
5. Call for Help, mintalah bantuan kepada masyarakat di sekitar untuk menelepon ambulans dengan memberitahukan :
  • jumlah korban
  • Kesadaran korban (sadar atau tidak sadar)
  • Perkiraan usia dan jenis kelamin
  • Tempat terjadi kegawatan
  • Bebaskan korban dari pakaian di daerah dada (buka kancing baju bagian atas korban)
posisikan diri di sebelah korban, usahakan posisi kaki yang mendekati kepala sejajar dengan bahu pasien
8. cek apakah ada tanda-tanda berikut :
a. luka-luka dari bagian bawah dagu ke atas (supra calvicula)
b. pasien mengalami tumbukan di berbagai tempat
c. mempunyai cedera di tulang belakang bagian leher
9. tanda-tanda cedera pada bagian leher sangat berbahaya karena pada bagian ini terdapat syaraf-syaraf yang mengatur fungsi vital manusia (pernapasan, denyut jantung)
a. jika tidak ada tanda-tanda tersebut maka lakukanlah Head Tilt and Chin Lift Chin Lift
dilakukan dengan cara menggunakan dua jari lalu mengangkat tulang dagu (bagian dagu yang keras) ke atas. Ini disertai dengan melakukan Head Tilt yaitu menahan kepala dan mempertahankan posisinya. Hal ini dilakukan untuk membenaskan jalan napas korban.
b. jika ada tanda-tanda tersebut, maka beralihlah ke bagian atas pasien, jepit kepala pasien dengan paha, usahakan agar kepalanya tidak bergerak-gerak lagi (imobilisasi) dan lakukanlah Jaw Thrust
gerakan ini dilakukan untuk menghindari adanya cedera lebih lanjut pada tulang belakang bagian leher korban

10. sambil melakukan a atau b diatas, lakukanlah pemeriksaan kondisi Airway (jalan napas) dan Breathing (Pernapasan) korban.
11. metode pengecekan menggunakan metode Look, Listen, and Feel
Look : Lihat apakah ada gerakan dada (gerakan bernapas), apakah gerakan tersebut simetris ?
Listen : Dengarkan apakah ada suara nafas normal, dan apakah ada suara nafas tambahan yang abnormal (bisa timbul karena ada hambatan sebagian)
Jenis-jenis suara nafas karena hambatan sebagian jalan napas :
  • Snoring : suara seperti dengkur, kondisiini menandakan adanya kebuntuan jalan nafas bagian atas oleh benda padat, jika ada suara ini maka lakukanlah pengecekan langsung dengan cara cross finger untuk membuka mulut (menggunakan dua jari yaitu ibu jari dan jari telunjuk kanan yang digunakan untuk chin lift tadi, ibu jari mendorong rahang atas ke atas, telunjuk menekan rahang bawah ke bawah). Lihatlah apakah ada benda yang menyangkut di tenggorokan (contoh, gigi palsu) pindahkan benda tersebut
  • Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan yang disebabkan oleh cairan (contoh darah), maka lakukan cross-finger, lalu lakukanlah finger-sweep (gunakan 2 jari yang telah dibalut dengan kain untuk ”menyapu” rongga mulut dari cairan-cairan)
  • Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya disebabkan karena pembengkakan (edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama tetap lakukan maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja
Jika suara nafas tidak terdengar karena ada hambatan total pada jalannya nafas maka dapat dilakukan :
  • Black Bow sebanyak 5 kali, yaitu dengan memukul menggunakan telapak tangan daerah antara tulang scapula di punggung
  • Heimlich Maneuver, dengan cara memposisikan diri seperti gambar, lalu menarik tangan ke arah belakang atas.
  • Chest Thrust, dilakukan pada ibu hamil, bayi atau obesitas dengan cara memposisikan diri seperti gambar lalu mendorong tangan kearah dalam atas.
Feel : Rasakan dengan pipi apakah ada hawa nafas dari korban.

12. jika ternyata pasien masih bernapas, maka hitunglah berapa frekuensi pernapasan korban dalam 1 menit (normalnya 12-20 kali permenit)
13. jika frekuensi nafas normal, pantau terus kondisi korban dengan tetap melakukan Look Listen and Feel.
14. jika frekuensi nafas <>
15. jika korban mengalami henti nafas berikan nafas buatan (detail tentang nafas buatan dibawah)

16. setelah diberikan nafas buatan maka lakukan pengecekan nadi carotis yang terletak di leher, ceklah dengan 2 jari, letakkan jari di tonjolan di tengah tenggorokan, lalu gerakanlah jari ke samping sampai terhambat oleh otot leher (sternocleidomastoideus), rasakan denyut nadi carotis selama 10 detik.
17. jika tidak ada denyut nadi lakukanlah Pijat Jantung, diikuti dengan nafas buatan, ulang sampai 6 kali siklus pijat jantung-napas buatan yang diakhiri dengan pijat jantung
18. cek lagi nadi karotis selama 10 detik, jika teraba lakukan Look Listen and Feel (kembali ke poin 11) lagi. Jika tidak teraba ulangi poin nomor 17.
19. pijat jantung dan nafas buatan dihentikan jika :
  • penolong kelelahan dan sudah tidak kuat lagi
  • pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kematian (kaku mayat)
  • bantuan sudah datang
  • teraba denyut nadi karotis
20. setelah berhasil mengamankan kondisi di atas, periksalah tanda-tanda shock pada korban
  • denyut nadi > 100 kali permenit
  • telapak tangan basah dingin dan pucat
  • Capilarry Refill Time > 2 detik (CRT dapat diperiksa dengan cara menekan ujung kuku pasien dengan kuku pemeriksa selama 5 detik, lalu lepaskan, cek berapa lama waktu yang dibutuhkan agar warna ujung kuku merah lagi)
21. jika korban shock, lakukan Shock Position pada pasienm yaitu dengan mengangkat kaki korban setinggi 45 derajat dengan harapan sirkulasi darah akan lebih banyak ke jantung.
22. pertahankan posisi shock sampai bantuan datang atau tanda-tanda shock menghilang
23. jika ada pendarahan pada korban, cobalah menghentikan pendarahan dengan menekan atau membebat luka (membebat jangan terlalu erat karena dapat menyebabkan jaringan yang dibebat mati)
24. setelah kondisi pasien stabil, tetap monitor selalu kondisi korban dengan Look Listen and Feel, karena korban sewaktu-waktu dapat memburuk secara tiba-tiba


Nafas Bantuan
Nafas Bantuan adalah nafas yang diberikan kepada pasien untuk menormalkan frekuensi nafas pasien yang di bawah normal. Misal frekuensi napas : 6 kali per menit, maka harus diberi nafas bantuan di sela setiap nafas spontan dia sehingga total nafas permenitnya menjadi normal (12 kali).
Prosedurnya :
1. Posisikan diri di samping korban
2. Jangan lakukan pernapasan mouth to mouth langsung, tapi gunakanlah kain sebagai pembatas antara mulut anda dan korban untuk mencegah penularan penyakit.
3. sambil tetap melakukan Chin lift, gunakan tangan yang digunakan untuk Head Tilt untuk menutup hidung pasien (agar udara yang diberikan tidak keluar lewat hidung)
4. mata memperhatikan dada korban, kemudian tutuplah seluruh mulut korban dengan mulut penolong
hembuskanlah nafas satu kali (tanda jika nafas yang diberikan masuk adalah dada korban mengembang) lepaskan penutup hidung dan jauhkan mulut sesaat untuk membiarkan korban menghembuskan nafas keluar (ekspirasi) lakukan lagi pemberian nafas sesuai dengan perhitungan agar nafas kembali normal


Nafas Buatan
Cara melakukan nafas buatan sama dengan nafas bantuan, bedanya nafas buatan diberikan pada korban yang mengalami henti nafas. Diberikan 2 kali efektif (dada mengembang)


Pijat Jantung
Pijat Jantung adalah usaha untuk ”memaksa” jantung memompakan darah ke seluruh tubuh, pijat jantung dilakukan pada korban dengan nadi karotis yang tidak teraba. Pijat jantung biasanya dipasangkan dengan nafas buatan (seperti yang dijelaskan pada alogaritma diatas).
Prosedur Pijat Jantung :
  1. posisikan diri di samping pasien
  2. posisikan tangan seperti gambar di center of chest (tepat di tengah-tengah dada)
  3. posisikan tangan tegak lurus korban seperti gambar
  4. tekanlah dada korban menggunakan tenaga yang diperoleh dari sendi panggul (hip joint)
  5. tekanlah dada kira-kira 4-5 cm (seperti gambar kiri bawah)
  6. setelah menekan, tarik sedikit tangan ke atas agar posisi dada kembali normal (seperti gambar kanan atas)
  7. satu set pijat jantung dilakukan sejumlah 30 kali tekanan, untuk memudahkan menghitung dapat dihitung dengan cara sebagai berikut : satu dua tiga empat SATU satu dua tiga empat DUA satu dua tiga empat TIGA satu dua tiga empat EMPAT satu dua tiga empat LIMA satu dua tiga empat ENAM
  8. Prinsip pijat jantung adalah :
  • push deep
  • push hard
  • push fast
  • maximum recoil (berikan waktu jantung relaksasi)
  • minimum interruption (pada saat melakukan prosedur ini penolong tidak boleh diinterupsi)

Memindahkan Korban
Sebisa mungkin, jangan memindahkan korban yang terluka kecuali ada bahaya api, lalu-lintas, asap beracun atau hal lain yang membahayakan korban maupun penolong. Sebaiknya berikan pertolongan pertama di tempat korban berada sambil menunggu bantuan datang. Jika terpaksa memindahkan korban, perhatikan hal-hal berikut:
  1. Apabila korban dicurigai menderita cedera tulang belakang, jangan dipindahkan kecuali memang benar-benar diperlukan.
  2. Tangani korban dengan hati-hati untuk menghindari cedera lebih parah. Pegang korban erat-erat tapi lembut. Perhatikan bagian kepala, leher dan tulang belakang terutama jika korban pingsan.
  3. Angkat korban secara perlahan-lahan tanpa merenggutnya.

CATATAN PENTING: Menyeret korban dapat dilakukan jika korban pingsan atau luka parah dan tidak cukup orang yang menolong untuk memindahkan korban. Lihat bagian selanjutnya.


Tentang tandu, Jika tidak ada tandu yang tersedia, gunakan papan meja, pintu atau 2 batang kayu yang kuat dengan selimut atau kain sarung. Gunakan tandu dengan bagian tengah yang keras untuk membawa korban yang dicurigai menderita cedera di kepala atau tulang belakang.
Jika tidak ada tandu :
  1. Jika kaki korban tidak terluka, membungkuk dan berjongkoklah di kaki korban; pegang pergelangan kakinya dengan erat; seret korban perlahan-lahan menjauhi dari bahaya.
  2. Jika kaki korban terluka, pegang siku atau pergelangan tangan korban dengan erat. Membungkuk dan seret korban perlahan-lahan. Jangan menyeret korban dengan memegang pakaiannya

CATATAN PENTING: Ketika Anda menyeret korban, usahakan tubuhkorban tetap rata dengan tanah.

Memindahkan korban dengan merangkul :
Dapat dilakukan untuk orang dewasa yang terluka yang masih bisa berjalan dengan sedikit bantuan.
  1. Berdirilah di samping korban; di sisi tubuh yang terluka. Namun, jika tangan atau bahu yang terluka, berdirilah disisi tubuhyang lain
  2. Rangkulkan tangan Anda ke belakang korban dan pegang pinggulnya . Rangkulkan tangan korban ke pundak Anda dan sanggalah korban dengan bahu Anda. Pegang tangannya.
  3. Pindahkan korban perlahanlahan. Melangkah dengan kaki bagian dalam terlebih dahulu.


Cara Merawat Luka
  1. Menggunakan perban sebelum dibalut Perban bisa digunakan sebagai penutup pelindung luka sebelum dibalut untuk mengendalikan, menyerap, menghentikan pendarahan, mengurangi rasa perih, mencegah infeksi dan luka lebih lanjut. Usahakan untuk menggunakan perban yang steril dan tidak lengket. Jika tidak ada, gunakan kain yang menyerap, bersih dan tidak lengket, seperti kain katun (sarung, seprai dll) atau pembalut wanita. Jangan menggunakan kain yang terbuat dari serat langsung pada luka, sebab seratnya akan menempel.
  2. Mengisi bantalan. Bantalan bisa dibuat dari beberapa lapis kain atau perban; diletakkan diatas perban agar menekan, menambah daya serap cairan serta melindungi luka. Bantalan dapat mencegah pembalut menyentuh luka jika ada benda atau tulang retak yang menonjol diluka.
  3. Pembalut pembungkus luka Luka perlu dibalut untuk mengendalikan pendarahan. Mengencangkan perban dan bantalan, dapat mengurangi atau mencegah pembengkakan. Menyangga kaki atau sendi dapat meredakan nyeri dan mencegah pergeseran pada kaki atau sendi. Dalam keadaan darurat, bisa menggunakan kain, sarung bantal atau kain bersih untuk membalut. Jangan membalut terlalu ketat. Pembengkakan, pucat atau biru pada jari tangan dan kaki, juga rasa kaku, terjepit, nyeri dan nadi tidak lancar di bagian bawah perban menandakan bahwa pembalut harus dilonggarkan.
  4. Penggunaan belat atau bidai. Belat atau bidai digunakan untuk melindungi luka agar tidak bertambah parah. Belat atau bidai juga digunakan sebagai penopang atau pencegah bagian badan yang retak dari gerakan sembari menunggu bantuan medis datang.
  5. Cara membuat penyangga. Penyangga digunakan jika tempurung lutut, lengan atas, lengan bawah, pergelangan atau jari mengalami retak. Dalam keadaan darurat, Anda dapat menggunakan payung yang dilipat, koran yang digulung atau bahan seperti tongkat yang keras. Bahkan kaki yang tidak luka pun dapat digunakan sebagai penyangga .Ikat erat kaki yang terluka dengan kaki yang tidak luka. Usahakan bagian yang terluka tidak bergeser saat memasang penyangga. Penyangga harus cukup panjang sampai kedua ujungnya menjangkau bagian yang retak. Periksa pengikat penyangga setiap 15 menit untuk memastikan bahwa sirkulasi darah tidak terganggu.

Pendarahan
Pendarahan berat maupun ringan jika tidak segera dirawat bisa berakibat fatal. Bila pendarahan terjadi, penting bagi penolong untuk menghentikannya secepat mungkin. Ada dua jenis pendarahan; pendarahan luar (pendarahan dari luka) dan pendarahan dalam (pendarahan di dalam tubuh). Pendarahan dalam lebih berbahaya dan lebih sulit untuk diketahui daripada pendarahan luar. Oleh karena itu tanda-tanda berikut harus diperhatikan.

Cara penanganan pendarahan dalam :
  1. Baringkan korban dengan nyaman dan longgarkan pakaiannya yang ketat.
  2. Angkat dan tekuk kakinya, kecuali ada bagian yang retak.
  3. Segera cari bantuan medis.
  4. Jangan memberi makanan atau minuman.
  5. Periksa korban setiap saat kalau dia mengalami syok (shock).

Cara penanganan pendarahan luar (pendarahan dari luka) :
  1. Baringkan korban dalam posisi pemulihan, kecuali bila ada luka di dada.
  2. Periksa apakah luka berisi benda asing atau tulang yang menonjol. Jika ada, jangan sentuh luka; gunakanlah bantalan pengikat. Untuk keterangan lebih lanjut lihat bagian sebelumnya, “Merawat luka”.
  3. Jika luka tidak disertai tulang yang menonjol, segera tekan bagian tubuh yang terluka. Jika tidak ada pembalut yang steril, gunakan gumpalan kain atau baju bersih atau tangan untuk mengontrol pendarahan sampai menemukan pembalut dan bantalan yang steril. Jika korban dapat menekan sendiri, suruh korban menekan lukanya, untuk mengurangi risiko infeksi silang.
  4. Balut luka dengan erat.
  5. Angkat bagian tubuh yang terluka, lebih tinggi dari posisi jantung korban.
  6. Jika darah membasahi pembalut, lepaskanpembalut dan gantilah bantalan. Walaupun pendarahan telah berhenti, jangan terburuburu melepaskan pembalut, bantalan atau perban untuk menghindari terjadinya hal yang tak terduga.
  7. Jangan memberi makanan atau minuman kepada korban yang mengalami pendarahan.
  8. Periksa korban setiap saat kalau-kalau dia mengalami syok (shock).
  9. SEGERA cari bantuan medis.

Cara menghentikan pendarahan :
  1. Angkat bagian tubuh yang terluka.
  2. Tekan bagian yang terluka dengan kain bersih. Jika tidak ada, gunakan tangan Anda.
  3. Tetap tekan bagian tubuh yang terluka sampai pendarahan terhenti.
  4. Jika pendarahan tidak bisa diatasi dengan menekan bagian tubuh yang terluka, dan korban telah kehilangan banyak darah, maka dianjurkan untuk:
  • Tetap menekan dengan kuat bagian tubuh yang terluka
  • Mengangkat bagian tubuh yang terluka setinggi-tingginya
  • Mengikat bagian lengan atau kaki yang dekat dengan luka, sedekat-dekatnya .ikat di antara bagian yang terluka dengan badan korban. Kencangkan ikatan sampai pendarahan terhenti


Perlindungan Diri Penolong
Dalam melakukan pertolongan pada kondisi gawat darurat, penolong tetap harus senantiasa memastikan keselamatan dirinya sendiri, baik dari bahaya yang disebabkan karena lingkungan, maupun karena bahaya yang disebabkan karena pemberian pertolongan.
Poin-poin penting dalam perlindungan diri penolong :
  1. Pastikan kondisi tempat memberi pertolongan tidak akan membahayakan penolong dan korban
  2. minimalisasi kontak langsung dengan pasien, dalam memberikan nafas bantuan sedapat mungkin digunakan sapu tangan atau kain lainnya untuk melindungi penolong dari penyakit yang mungkin dapat ditularkan oleh korban
  3. selalu perhatikan kesehatan diri penolong, sebab pemberian pertolongan pertama adalah tindakan yang memakan energi. Jika dilakukan dengan kondisi tidak fit, justru akan membahayakan penolong sendiri.


Sumber :

http//www.idepfoundation.org/download_files/pbbm/IDEP_Emergency_FirstAid_Booklet

http://catatanetja.wordpress.com/2007/12/26/pertolongan-pertama pada-gawat-darurat-ppgd/

dan literatur lainnya


BOTANI DAN ZOOLOGI PRAKTIS

PENDAHULUAN
Mempelajari botani dan zoologi praktis dianggap penting untuk lebih mengenal jenis tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan darurat (survival food) atau obat-obatan. Selain itu kita dapat mengenal jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan yang harus dijauhi karena beracun, berbisa, atau dapat mengancam keselamatan jiwa. Materi ini menjadi penting, karena alam tropis memiliki karakteristik yang berbeda dengan alam subtropis. Tentunya alam yang berbeda akan menyebabkan pula cara mengatasinya. Lingkup pembahasan materi ini dibatasi untuk pengenalan tumbuhan dan hewan di gunung, hutan, sungai serta disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia. Pelajaran ini harus dilengkapi dengan membaca kepustakaan dan menambah pengalaman perjalanan, karena untuk jenis binatang atau tumbuh-tumbuhan yang sama mungkin terdapat perbedaan nama (nama daerah).


BOTANI PRAKTIS
Permasalahan dalam survival mengenai masalah Botani Praktis yaitu, survivor harus mengenal karakteristik alamnya, karena daerah di Indonesia ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa zona geografi tumbuhan. Kita bersurvival di Indonesia barat tentu berbeda ketika kita bersurvival di Indonesia timur. Ada daerah yang memiliki rawa luas, di mana tumbuhan yang ada sangat khas. Secara garis besar, tumbuh-tumbuhan dalam materi ini dibedakan pada dua hal :
1. Tumbuhan yang berguna (dapat dimakan, mengandung air, dapat dipakai sebagai obat, dan lain-lain). Bagian tumbuhan yang dapat dimakan dan memberikan energi yang cukup adalah umbi, baik umbi batang maupun umbi bakar. Setelah itu baru buah, biji, dan daun. Ciri umum tumbuhan yang dapat dimakan :
  • Bagian tumbuhan yang masih muda (pucuk/tunas).
  • Tumbuhan yang tidak mengandung getah.
  • Tumbuhan yang tidak berbulu.
  • Tumbuhan yang tidak berbau kurang sedap.
  • Tumbuhan yang dimakan oleh hewan mamalia.
Langkah-langkah yang perlu bila akan memakan tumbuhan :
  • Makan tumbuh-tumbuhan yang sudah dikenal.
  • Makan jangan satu jenis tumbuhan saja.
  • Sebaiknya jangan memakan tumbuhan yang buahnya berwarna ungu, karena dikhawatirkan mengndung racun alkaloid.
  • Cara memakan buah-buahan yang belum kita kenal adalh dengan mengoleskan sedikit ke bibir dan ditunggu reaksinya. Bila tidak ada rasa aneh (panas, pahit) berarti cukup aman.
  • Yang paling baik adalh dengan terlebih dahulu memsak bagian tumbuhan yang akan dimakan.
Tumbuhan Obat Dapat dikelompokkan menjadi dua :
a. Dimakan/diminum
  • Brantawali (Anamitra cocculus), tumbuhannya merayap. Terdapat di hutan, di kampung. Batangnya direbus, rasanya pahit. Kegunaannya untuk anti demam, anti malaria, pembersih luka, penambah nafsu makan.
  • Keji Beling/ngokilo (Strobilatetes). Tumbuhan semak dan di hutan. Ambil daunnya, dimasak untuk obat pinggang dan infeksi/keracunan pada pencernaan.
  • Sembung/sembung manis (Blumen Balsmifira). Jenis rumput-rumputan, terdapat di padang rumput yang banyak anginnya. Daunnya di seduh dengan air panas, dapat digunakan untuk sakit panas, sakit perut.
b. Tumbuhan obat luar, untuk luka
  • Getah pohon Kamboja, untuk menghilangkan bengkak. Gosok getah pada bagian tubuh, biarkan 24 jam. Bersihkan dengan minyak kelapa kemudian dengan air hangat. Juga untuk terkilir.
  • Air rebusan brantawali untuk mencuci luka, juga air batang pohon randu (kapuk hutan).
  • Daun Sambiloto ditumbuk halus, atau daun Ploso yang juga ditumbuk, untuk anti sengatan kalajengking.

2. Tumbuhan yang berbahaya (beracun).
  • Getah pohon paku putih dapat menyaebabkan kebutaan.
  • Getah pohon Renggas, ingas/semplop, sangat berbahaya karena merusak jaringan.
  • Getah Jambu Monyet menyebabkan gatal-gatal.
  • Buah aren mentah juga menyebabkan gatal-gatal.
  • Kecubung beracun bila dimakan.
  • Rarawean, dapat menyebabkan gatal-gatal dan pedih.
  • Daun fulus, juga dapat menyebabkan gatal dan panas.
  • Si cantik beracun.

3. Tumbuhan Berguna lainnya
  • Tumbuhan penyimpanan air : tumbuhan beruas (bambu, rotan, dan lain-lain), tumbuhan merambat, kantung semar, kaktus, dan sebagainya.
  • Tumbuhan pembuat atap/perlindungan ; daun nipah, aren, sagu dan lain-lain.
  • Pengusir ular dan serangga : lemo.
  • Indikator air bersih : tespong, selada air.


ZOOLOGI PRAKTIS
Sebagian hewan pada dasarnya dapat dimakan tetapi kesulitannya adalah keputusan untuk mendapatkan hewan tersebut. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang habitat dan tingkah laku hewan tersebut. Seperi hewan selalu mencari air untuk kebutuhan hidupnya maka dalam hal ini kita dihadapkan pada permasalahan, bila di dekat sumber air banyak hewan maka banyak pula hewan berbahaya bagi kita disekitar tempat tersebut.

Binatang Yang Berguna :
  • Hampir semua mamalia dan burung dapat dimakan dagingnya.
  • Ular, kadal, kura-kura dapat dimakan.
  • Lebah bisa diambil madu dan larvanya.
  • Cacing dan siput hutan dapat dimakan.

Binatang Berbahaya Antara lain :
  • Nyamuk di daerah malaria.
  • Lalat dayak/lalat kerbau (besarnya 2 kali lalat biasa). Terdapat di hutan Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya. Bekas gigitannya bengkak dan gatal, biasa infeksi.
  • Tawon/lebah, berbahaya jika disengat. Dalam jumlah besar dapat mematikan.
  • Kelabang (Centipoda, kalajengking). Bekas sengatannya sakit dan bengkak. Untuk mengurangi rasa sakitnya dapat dengan amonia, tembakau, daun sambiloto.
  • Pacet, lintah (lintah air, lintah darat, lintah sawah). Umumnya berbentuk pipih kecil sebesar benang dan setelah beberapa menit menghisap darah manusia dapat membesar sebesar ibu jari, bahkan sebesar lilin. Untuk melepaskannya, siram dengan air tembakau. Hati-hati terhadap luka kita, terkadang menimbulkan pendarahan yang sulit dihentikan. Untuk menghindari pacet atau lintah, dapat dilakukan dengan menyimpan memasukkan tembakau dalam kantung pakaian.
  • Ular berbisa, antara lain : ular hijau/ular pucuk, ular bakau, ular tanah, ular sendok, ular belang. Umumnya jenis ular berbisa dapat diketahui dengan melihat bentuk kepala (segi tiga), leher relatif kecil, terdapat lekukan mata dan lubang hidung, mempunyai gigi bisa.

Di Indonesia, diperkirakan ada 400 jenis ular. Di antaranya 110 jenis termasuk ular berbisa. Ular berbisa tersebut kebanyakan hidup di laut atau sekitar pantai., bersifat pasif dan jarang menggigit. Sedang yang hidup di darat sekitar 35 jenis.
Populasi ular ini sangat rendah, sehingga ular tersebut banyak dikategorikan langka/jarang ditemukan, meskipun mempunyai kemampuan berbiak yang cukup besar. Ada yang dapat bertelur atau beranak sampai puluhan ekor, tapi setelah mengalami beberapa tahap, yang dapat bertahan hidup jumlahnya sedikit sekali. Bisa Ular
Bisa ular terdiri dari kelenjar bisa dan saluran. Ukurannya tergantung pada besar tubuh ular itu sendiri. Ular bisa menentukan jumlah bisa yang dikeluarkan untuk melumpuhkan lawan atau mangsanya. Suatu hal yang jarang terjadi bila ular sampai mengeluarkan seluruh isi kelenjar bisanya.

Berdasarkan tipe gigit bisa, ular dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu :
  1. Aglypha, tidak mempunyai gigit bisa. Contoh : ular sanca, ular sawah (umumnya dari keluarga Colubridgae).
  2. Ophistoglypha, mempunyai gigi bisa di belakang. Contoh : ular cincin Mas (Boiga dendrophila), Ular pucuk (Dryophis).
  3. Proteroglypha, mempunyai gigi bisa di depan, yang efektif untuk menyalurkan bisa. Contohnya Elapidae, hydrophiidae.
  4. Solenoglypha, mempunyai gigi bisa di depan, dan dapat dilipat. Umumnya gigi bisa tersebut besar. Contohnya Crotalidae, Viperridae.

Macam Bisa
  1. Neurotoksin, yang menyerang jaringan saraf dan bersifat bertentangan dengan tranmisi rangsangan saraf. Menyebabkan kelumpuhan kepada alat pernapasan dan rusaknya jaringan otak.
  2. Hemotoksin, yang menyerang darah dan sistem peredarannya. Dapat menguraikan protein, menyebabkan sel darah rusak dan menggumpal.
  3. Kardiotoksin, yang menyerang otot jantung. Miksotoksin, yang diserang cairan dalam tubuh.

Obat Yang Biasa Digunakan Untuk Menawarkan Bisa ·
  • Aspirin untuk menghilangkan rasa sakit.
  • Vitamin B kompleks dan Paracetamol menghilangkan rasa nyeri dan panas.
  • Antivenin Polyvalent merupakan serum anti bisa yang bersifat umum.
  • Antivenin Taipan, serum untuk yang digigir ular Taipan.
  • Anti venin Brown Snake, serum untuk yng digigit ular Mulga.
  • Antivenin Papuan Black Snake, serum untuk yang digigit ular hitm Irian.

Pencegahan
Aturan emas’ agar tidak dipatuk ular adalah, “HINDARILAH ULAR!!”. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diingat: ·
  • Ular takut kepada manusia, ketimbang sebaliknya. Berikan kepada ular untuk mundur.
  • Belajar mengenali ular berbisa di daerah operasi. Usahakan untuk tidak membunuh ular yang tidak berbisa.
  • Jangan berjalan di malam hari. Banyak ular berbisa yang aktif di malam hari.
  • Ular biasanya menhindari sinar matahari langsung. Sangat aktif pada temperatur sedang (25-28oC).
  • Hindari gua-gua, lubang-lubang terbuka, dan daerah ular yang diketahui. Ular tinggal di daerah yang terlindung.
  • Ular berbisa dapat tinngal di ketinggian, juga dapat memanjat pohon dan pagar (ular pucuk, ular pohon, dan lain-lain)
  • Berjalanlah di jalan setapak yang ada. Hindari semak belukar. Gunakan pakaian-pakaian yang melindungi bila masuk daerah-daerah bersemak.
  • Hindari berjalan di daerah yang terkenal banyak ularnya.

27/08/10

PERENCANAAN PERJALANAN DAN PERBEKALAN

PERENCANAAN PERJALANAN

Pendahuluan

Banyak kejadian kecelakaan dalam kegiatan di alam terbuka yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan maupun keterampilan yang dimiliki oleh para penggiatnya. Sesungguhnya hal ini dapat dihindarkan dengan memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan sehingga para penggiat kegiatan alam terbuka mempunyai kemampuan yang memadai.

Collin Mortlock, seorang pakar pendidikan alam terbuka, mengkategorikan kemampuan yang diperlukan oleh para penggiat kegiatan alam terbuka sebagai berikut :
  1. kemampuan Teknis, yang berhubungan dengan ritme dan keseimbangan gerakan serta efisiensi penggunaan perlengkapan.
  2. kemampuan Kebugaran, mencakup kebugaran spesifik yang dibutuhkan untuk kegiatan tertentu, kebugaran jantung dan sirkulasinya, serta kemampuan pengkondisian tubuh terhadap tekanan lingkungan alam.
  3. kemampuan Kemanusiawian, yaitu pengembangan sikap positif ke segala aspek untuk meningkatkan kemampuan. Hal ini mencakup determinasi (kemauan), kepercayaan diri, kesabaran, konsentrasi, analisa diri, kemandirian, serta kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.
  4. kemampuan Pemahaman Lingkungan, yaitu pengembangan kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan yang spesifik. Keempat kemampuan tersebut tidaklah mudah untuk dikuasai dengan baik, namun perlu diingat bahwa penguasaan kemampuan tersebut sangat diperlukan dalam kegiatan alam terbuka.
Dalam merencanakan dan melakukan perjalanan, tentunya harus dilakukan persiapan yang baik, sehingga kegiatan dapat dilakukan dengan aman dan nyaman, sehingga dapat pulang dengan selamat. Setiap penggiat juga harus membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengatasi kesulitan yang mungkin saja muncul, seperti kecelakaan, sakit, atau tersesat.

Tahapan perencanaan perjalanan adalah sebagai berikut :
  1. kita harus dibekali dengan kemampuan untuk memilih, mengatur, serta menggunakan perlengkapan dan perbekalan ; kemampuan teknis menggunakan alat bantu perjalanan, seperti peta dan kompas ; kemampuan berkemah (camp craft) seperti membuat bivak dan api. Penguasaan keterampilan ini akan membantu kita mengatur teknik berjalan di gunung hutan, menebas dengan efektif, maupun mengatur konsumsi makan dan minum.
  2. diperlukan kemampuan fisik yang baik, sehingga selain diperlukan kondisi tubuh yang sehat, juga diperlukan latihan fisik yang sesuai dengan kegiatan yang akan dilakukan. Misalnya untuk pendakian gunung, latihan fisik naik turun bukit dapat dilakukan dalam persiapan perjalanan, selain itu juga latihan mengangkat beban (ransel).
  3. diperlukan mental yang siap untuk menghadapi kegiatan berat di alam. Hal ini tidak dapat diajarkan oleh pelatih, namun harus ditumbuhkan dari dalam diri sendiri. Penguasaan yang baik pada tiga ketrampilan lainnya akan sangat membantu.
  4. diperlukan pemahaman yang baik terhadap kondisi alam yang akan dihadapi dan mencakup bagaimana memilih waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan dan bagaimana cara mengantisipasi kesulitan yang mungkin terjadi.

Safety (Keselamatan)
Faktor keselamatan (safety) harus dijadikan kerangka berfikir dalam berkegiatan di alam terbuka. Untuk keadaan berbahaya, dapat dilakukan penggolongan faktor penyebabnya, yaitu bahaya subyektif dan bahaya obyektif.

Bahaya subyektif adalah potensi bayaha yang berada dibawah kendali manusia yang melakukan kegiatan. Contohnya, pemilihan alat yang salah, cara penggunaan peralatan yang tidak dikuasai dengan baik dan lain-lain.

Bahaya obyektif adalah bahaya yang berada di luar kendali manusia, misalnya badai, banjir, panas, dan lain-lain.

Semakin subyektif suatu bahaya maka akan semakin dapat diperkirakan terjadinya dan dapat dihindarkan. Sebaliknya, semakin obyektif suatu bahaya maka akan semakin sulit diperkirakan dan sulit dihindarkan.

Faktor Perencanaan perjalanan
Faktor yang dapat dijadikan acuan dalam perjalanan adalah sebagai berikut :
  1. faktor Alam, mencakup pemahaman mengenai lokasi tujuan, medan yang akan dihadapi, iklim daerah yang dituju, dan hal-hal berkaitan dengan lingkungan. Pengantisipasiannya adalah dengan melakukan studi literatur yang baik, analisa, informasi dari pemerintah setempat, dan lain-lain.
  2. Faktor Peserta, mencakup pemilihan personil, kepemimpinan (leadership), hierarki,deskripsi kerja, dan tanggung jawab peserta perjalanan, serta kemampuan dari setiap peserta perjalanan.
  3. Faktor Penyelenggara, mencakup permasalahan faktor teknis dan faktor non-teknis. Pada perjalanan yang besar (ekspedisi), ada faktor semi-teknis. Faktor Teknis adalah daya upaya operasi yang berhubungan langsung dengan tingkat kesulitan medan. Faktor Non-teknis adalah permasalahan daya dukung operasi yang tidak berhubungan langsung dengan tingkat kesulitan medan. Faktor Semi-teknis untuk ekspedisi besar dan kompleks adalah permasalahan daya dukung operasi yang berhubungan langsung dengan tingkat kesulitan medan, namun bersifat non-teknis (komunikasi, base-camp team, advance-team, take in& out team, rescue team, delivery team) faktor ini berada daiantara faktor teknis dan non-teknis.

Tabel Jadwal Kegiatan
Rencana yang baik akan membagi kegiatan menjadi sejumlah tahapan yang mengacu pada waktu yang tersedia dan cakupan pekerjaan. Tabel skedul membantu kita berpikir logis tentang tahapan kegiatan. Biasanya untuk kegiatan-kegiatan besar, perlu disusun tabel, namun untuk perjalanan-perjalanan yang biasa dilakukan dan tidak terlalu rumit, tahapan ini otomatis akan kita lakukan.


Etika Perjalanan
Dalam perjalanan ke alam terbuka, kita akan melalui daerah serta lokasi di mana terdapat adat istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan penduduk setempat yang terkadang terasa aneh oleh kita yang tidak terbiasa, tergantung bagaimana kita menyikapai adat tersebut, apakah akan diterima atau ditolak, namun hal-hal seperti itu dapat dijadikan informasi awal untuk mendapatkan gambaran sekilas mengenai daerah tersebut. Selain itu, ketika melakukan perjalanan di suatu daerah, sebaiknya melapor kepada aparat setempat yang berwenang.


PERSIAPAN PERBEKALAN DAN PERLENGKAPAN
Keberhasilansuatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perncanaan perlengkapan dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakannya, beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
  • mengenal jenis medan yang akan dihadapi (misal : hutan, rawa, tebing, dll)
  • menentukan tujuan perjalanan (misal : penjelajahan, pelatihan, penelitian, kemanusiaan/SAR, dll)
  • mengetahui lamanya perjalanan
  • mengetahui keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa
  • memperhatikan hal-hal khusus (misal : obat,-obatan tertentu, dsb)

setelah mengetahui hal-hal tersebut, kita dapat memilih perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi bebannya tidak melebihi kemampuan membawanya. Perhitungan beban total untuk perorangan sebaiknya tidak melebihi sepertiga berat badan (15-20kg).

Dari kegiatan penjelajahan kita mengenal beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu :
  • pendakian gunung
  • perjalanan menempuh hutan rimba
  • penyusuran pantai, sungai atau rawa
  • penyusuran gua
  • pelayaran
  • perjalanan ilmiah
  • perjalanan kemanusiaan

Dari tiap kegiatan tersebut, kita mengelompokkan perlengkapan yang dibawa sebagai berikut :
  1. perlengkapan dasar, meliputi : perlengkapan untuk pergerakan, ; perlengkapan untuk memasak, makan, minum ; perlengkapan untuk MCK ; perlengkapan pribadi
  2. perlengkapan Khusus, meliputi : perlengapan penelitian (misal: kamera, buku, dan alat-alat khusus lainnya) ; perlengkapan penyusuran sungai (misal : perahu, dayung, pelampung, dll) ; perlengkapan pendakian tebing (misal : tali, carabiner, chock, piton, dsb)
  3. perlengkapan tambahan perlengkapan ini dapat dibawa atau tidak, misal : semir, kelambu, gaiter, dll

dari berbagai sumber
¢


02/08/10

Pengantar Ilmu Survival

PENDAHULUAN
Orang-orang yang senang berpetualang, baik digunung, dihutan, atau ditempat-tempat lain, harus selalu sadar akan resiko yang ada pada kegiatan tersebut. Pengetahuan dan pemahaman akan resiko yang mungkin didapat merupakan faktor yang esensial dalam persiapan dan pelaksanaan suatu kegiatan di alam terbuka. Resiko apapun yang mungkin muncul, berkaitan erat dengan bahaya-bahaya yang terkandung dalam pelaksanaan kegiatan.
Perlu diingat, bagaimanapun siapnya kita dalam mengha
dapi berbagai resiko, suatu waktu mungkin kita terpaksa menghadapi situasi kritis yang tidak diinginkan. Situasi seperti ini merupakan hal yang tidak terduga. Dalam perjalanan mendaki gunung misalnya, kita dapat tersesat beberapa hari sementara bekal makanan sudah semakin menipis. Atau dalam suatu pelayaran, kapal kita tenggelam dan kita terapung-apung ditengah-tengah lautan. Kondisi-kondisi kritis/marjinal seperti ini dapat kita golongkan sebagai kondisi survival.
Survival berasal dari kata survive, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan hidup.
Yang dapat dipertanyakan disini : Apa yang menyebabkan
kondisi kritis itu muncul ? atau dengan kata lain, “aspek” apa yang akan kita hadapi dalam kondisi survival ? Dalam kenyataannya hal-hal yang kita hadapi bergantung pada spesifikasi kondisi tersebut, misalnya tersesat di gurun pasir atau di kutub akan memunculkan aspek-aspek yang berbeda.

Secara umum aspek-aspek itu dapat dipisahkan pada 3 golongan :
1. Psikologis : panik, takut, cemas, kesepian/sendiri, bingung, tertekan, kebosanan, dan lain-lain.
2. Fisiologis : sakit, lapar, haus, luka, lelah, dan lainnya.
3. Lingkungan : panas, dingin, kering, hujan, angin, vegetasi
, fauna, dan lainnya.

Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Aspek-aspek lingkungan dan fisiogis dapat mempengaruhi aspek psikologis. Aspek psikologis dan fisiologis akan muncul dari dalam diri kita, sedangkan aspek lingkungan merupakan efek interaksi kita dengan lingkungan sekitar kita.


MODAL DASAR DALAM MENGHADAPI SURVIVAL
Dari beberapa kasus survival, ada beberapa kesamaan
yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam mengatasi kondisi survival. Ada tiga hal yang dapat digunakan untuk mengatasi survival, yaitu :
1. Semangat untuk mempertahankan diri
2. Kesiapan diri
3. Alat pendukung


TINDAKAN DALAM MENGHADAPI KONDISI SURVIVAL Usaha apa saja yang perlu kita lakukan agar keluar dari kondisi survival, dalam arti menguasai keadaan, dapat ditemukan dari kata kunci survival itu sendiri. Setiap huruf dari kata “survival” merupakan singkatan dari langkah-langkah yang harus kita ingat bila kita dihadapkan pada kondisi survival :

S : Size up the situation
Sadarilah kondisi survival ini. Bagaimana kesehatan teman-teman maupun diri sendiri. Adakah yang cidera ? Berapa banyak perserdiaan bahan makanan yang tersisa ? Dalam lingkungan seperti apa kita berada ?

U : Undue Haste Makes Waste
Tindakan yang terburu-buru cenderung menghasilkan kesia-siaan. Berpikir dan bertindaklah dengan bijaksana. Setiap langkah harus dipikirkan dengan mendalam.

R : Remember where you are
Pengenalan akan lingkungan atau daerah sekitar memberikan rasa kenal yang berpengaruh pada rasa aman. Apapun yang kita putuskan untuk diam ataupun mencari bantuan. Pengenalan medan merupakan hal yang esensial.

V : Vanquish fear and panic
Kuasailah rasa takut dan panik. Merasa takut adalah normal dan perlu. Takut merupakan reaksi tubuh yang normal dan berfungsi menyiapkan tubuh dalam menghadapi kondisi. Perlu, dengan ini diberikan tambahan energi pada tubuh bilamana diperlukan. Namun rasa takut harus dikuasai dan dikontrol. Bila tidak dikuasai dan dikontrol maka akan menjadi rasa panik. Panik akan membuat orang bertindak terburu-buru dan membuang energi. Panik juga dapat diakibatkan oleh rasa sepi, yang selanjutnya mengakibatkan putus asa.

I : Improvice
-Salah satu cara mengatasi rasa takut adalah dengan mengisi waktu yang ada dengan kegiatan-kegiatan yang ditujukan pada usaha mengatasi kondisi survival.
-Menerima kondisi yang ada dan berdasarkan hal itu, merencanakan, mengusahakan kebutuhan-kebutuhan dasar dengan berinprovisasi.
-Ubahlah cara pandang terhadap yang ada. Inilah yang terpenting dalam berimprovisasi. Sebuah balok tidaklah hanya sebuah balok, tetapi dapat menjadi bahan dasar bivak, api, pakaian, dan sebagainya.

V : Value living (Hargai hidup !)

- Merupakan hal yang terpenting dalam kondisi survival. Bagaimana sikap kita terhadap hidup akan mempengaruhi kemampuan untuk bertahan hidup.
- Orang dapat bertahan atau berimprovisasi, dan dengan itu keluar dari kondisi survival karena mereka menghargai hidup atau tidak berputus asa.

A : Act like the natives
Belajarlah dari penduduk setempat. Mereka lebih mengetahui dan menguasai medan. Jika bertemu dengan penduduk asli, bersikaplah ramah.

L : Learn basic skills
Belajar dan berlatihlah teknik-teknik dasar. Jaminan yang terbaik adalah menguasai dan memahami teknik-teknik dan prosedur survival, sehingga merasuk dan dapat dikerjakan secara otomatis. Berlatihlah dan tambah atau tingkatkan pengetahuan tentang survival.

Dari kata-kata kunci diatas dapat disimpulkan bahwa survival lebih merupakan sikap men
tal daripada penguasaan pengetahuan. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa pengetahuan harus diabaikan.

KEBUTUHAN YANG HARUS DIPENUHI
Untuk menambah tenaga dan mempertahankan kondisi tubuh, serta usaha untuk terlepas dari kondisi survival, ada lima kebutuhan yang harus diusahakan :
  • Perlindungan terhadap faktor pengancam
  • Makanan
  • Api
  • Air
  • Perlengkapan pendukung dan usaha berkomuniksi dengan pihak luar
Kelima faktor ini merupakan kebutuhan yang sifatnya simultan, serta bobot dari masing-masing kebutuhan ini tergantung dari situasi dan kondisi kita pada saat survival.


PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Satu hal yang ikut menentukan lamanya kita mengalami survival adalah tindakan yang akan kita lakukan Apakah kita akan menetap (survival statis) atau bergerak mencari jalan keluar (survival dinamis), yang masing-masing memiliki keuntungan sendiri. Jika kita ingin keluar, tentunya kita membutuhkan alat bantu peta atau kompas, atau setidak-tidaknya pemahaman tentang daerah tersebut dan kemampuan kita bernavigasi den
gan tanda-tanda alam. Keberhasilan dalam pengambilan keputusan dalam survival tergantung pada pengalaman dan latar belakang orang yang mengalami survival.

Petunjuk Praktis Teknik berbivak di alam

navigasi darat


PETA DAN SKALA

Peta adalah suatu representasi diatas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang dilihat dari atas dan diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Ada beberapa jenis peta tetapi untuk keperluan pendakian digunakan peta topografi. Dan perbandingan pada peta ini disebut dengan istilah skala.

Skala artinya perbandingan jarak antara dua titik tertentu dalam peta dengan jarak pada medan sebenarnya. Dalam peta dikenal dua macam skala yang seringkali dicantumkan berdampingan yaitu skala angka dan skala garis.

Skala angka 1: 100.000 artinya 1 cm pada peta sama dengan 100.000 cm (= 1 km) pada medan sebenarnya. Skala garis dicantumkan dengan cara menggambarkan suatu garis dengan jarak-jarak tertentu pada peta. Pemakaian skala garis agak menguntungkan, terutama kalau peta tersebut diperbesar atau diperkecil dengan fotocopy. Hasil kopian peta tidak akan mengubah pembacaan skala garis.

Skala Garis :






0 5 km

DEKLINASI

Dibawah lembar peta selalu dicantumakan tanda arah tiga macam utara yang dalam penggunaan praktis amat perlu diperhitungkan.

Utara Sebenarnya (True North)

Tanda ini tepat mengarah pada kutub utara bumi, dan sesungguhnya menggambarkan garis lintang bola dunia

Utara Peta (Grid North)

Utara ini digambarkan sebagai garis vertikal pada lembaran peta. Arah utara ini sebenarnya hasil proyeksi garis lintang dan garis bujur pada bidang datar, yang terbentuk pada pola koordinat (grid). Proyeksi tersebut dilakukan karena bumi berbentuk elipsoid (bulat lonjong) sehingga untuk melihat semua bagian bumi dalam hubungan keseluruhan tidak dapat dilakukan. Untuk memudahkan pengertian tentang Utara Peta ini, kita umpamakan dunia yang bulat lonjong ini dibentuk oleh kerangka-kerangka dari kawat. Untuk melihat semua bagian bumi dalam satu pandangan kita belah bola tersebut dan kita bentangkan kawat-kawatnya dalam satu bidang datar. Maka kita akan melihat semua bagian bumi tersebut dengan kawat yang melintang dan membujur pada poila koordinat atau grid. Garis-garis vertikal pada koordinat menunjukkan arah utara peta dan sudah tidak sama lagi dengan arah utara sebenarnya.

Utara Magnetis (Magnetic North)

Utara ini adalah yang ditunjukkan oleh jarum kompas, tidak tepat di Kutub Utara, tetapi di Jazirah Boothia di utara Kanada. Utara Magnetis pada setiap tempat di muka bumi ini arahnya tidak sama, tergantung letaknya pada garis bujur dan garis lintang bola dunia. Dan karena pengaruh rotasi bumi, kutub magnetis tersebut setiap tahun selalu bergeser. Untuk menemukan Utara Magnetis dalam peta, pergeseran ini harus diperhitungkan. Di Indonesia, Utara Magnetis bergeser ke arah timur.

Pergeseran kutub magnetis setiap tahun membuat variasi magnetis selalu berubah, variasi ini disebut deklinasi. Ada dua macam variasi (Ikhtilap) karena pengaruh pergeseran kutub magnetis:

1. Variasi Magnetis atau Ikhtilap Magnetis yaitu antara utara sebenarnya dengan utara magnetis.

2. Variasi Peta Magnetis atau Ikhtilap Peta Magnetis yaitu perbedaan antara utara peta dengan utara magnetis. Variasi ini digunakan dalam penggunaan praktis di lapangan.

3. Variasi Peta atau Ikhtilap Peta yaitu perbedaan antara utara peta dengan utara sebenarnya. Variasi peta tidak berubah nilainya karena pergeseran kutub magnetis. Di Indonesia perbedaannya sangat sedikit sehingga dapat diabaikan.

Setelah skala, dalam membaca peta dan menentukan arah perjalanan, terlebih dahulu kita perhatikan tahun pembuatan peta. Tiap tahun variasi peta magnetis bergeser dan bertambah 2’. Hitung pergeseran variasi peta magnetis dari tahun pembuatan sampai tahun sekarang, lalu jumlahkan derajat variasi peta magnetis seluruhnya.

KONTUR DAN LEGENDA

Dalam peta topografi relief muka bumi digambarkan sebagai kontur. Kontur adalah garis-garis imajiner dalam peta yang menghubungkan semua tempat yang sama tinggi di permukaan bumi diukur dari permukaan laut. Bagi seorang penjelajah, kontur sangat penting untuk diperhatikan, karena pembacaan peta dengan mempelajari kontur ini menentukan rute yang bakal ditempuh. Dengan memperhatikan kontur, seseorang dapat mengetahui bagian-bagian bumi yang curam, landai, atau datar. Garis-garis kontur yang jarang atau berjauhan menandakan medan yang landai atau datar. Dan sebaliknya kontur yang rapat berarti medannya curam. Dengan memperhatikan kontur kita juga dapat mengetahui medan tersebut berupa lembah atau panggung gunung.

Kontur mewakili suatu ketinggian tertentu. Beda tinggi antara suatu kontur dengan kontur lain didekatnya disebut interval kontur. Suatu besar interval kontur biasanya dicantumkan di bawah lembaran peta. Apabila interval kontur tidak tercantum pada peta maka kita dapat menghitungnya.

m2

Interval Kontur = (Skala Peta : 2000) meter

Misalkan peta dengan skala 1: 50.000 maka akan memiliki interval kontur

(50.000 : 2000) = 25 m

Legenda adalah tanda-tanda konvensional pada peta, keterangannya tercantum di bawah lembar peta.

KOORDINAT DALAM PETA

Lembaran peta terdiri atas garis-garis koordinat, garis-garis yang horisontal dan vertikal membentuk kotak-kotak bujursangkar. Tiap garis horisontal (garis x) diberi nomor urut dari barat ke timur dan garis vertikal (garis y) diberi nomor urut dari selatan ke utara. Untuk mengetahui posisi kita pada sebuah peta digunakan koordinat peta. Untuk daerah yang luas digunakan sistem koordinat 4 angka, sedangkan untuk daerah yang lebih sempit digunakan sistem 6 angka.

AZIMUTH

Azimuth adalah sudut antara suatu titik terhadap arah utara dari seorang pengamat. Ada dua macam azimuth, yaitu azimuth peta adalah sudut antara suatu titik terhadap arah utara peta dalam peta. Dan azimuth magnetis adalah sudut antara suatu titik di medan sebenarnya terhadap arah utara magnetis.

Untuk perhitungan azimuth dari peta ke kompas, maka derajat azimuth pada peta dikurangi derajat variasi peta magnetis. Sebaliknya untuk perhitungan azimuth dari kompas ke peta, maka derajat azimuth magnetis ditambah derajat variasi peta magnetis. Misal azimuth magnetis 55 dan variasi peta magnetis 2 26’, maka azimuth petanya 57 26’.

Azimuth Magnetis = Azimuth Peta – Variasi Peta Magnetis

Sudut yang arahnya tepat dibelakang azimuth disebut Back Azimuth. Ini akan berguna nantinya pada teknik-teknik pada navigasi. Apabila azimuth lebih kecil dari 180 maka back azimuth = (Azimuth + 180) . Dan apabila azimuth lebih besar dari 180 maka back azimuth = (Azimuth – 180). Misal azimuth 25 ,maka back azimuth 180 + 25 = 205. Atau misalnya azimuth 320, maka back azimuth 320 - 180 = 140.

RESECTION DAN INTERSECTION

Dalam situasi tertentu , seringkali tidak diketahui posisi kita pada peta, atau kita menemukan suatu tempat yang tidak diketahui letaknya ada peta. Dengan menggunakan kompas baik posisi kita maupun tempat yang belum diketahui tersebut dapat ditentukan koordinatnya pada peta. Caranya ialah dengan menggunakan teknik Resection.

Langkah-langkah dalam melakukan Resection :

1. Carilah tempat yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, sehingga dapat melihat sekelilingi dengan leluasa.

2. Cari minimal dua titik di medan yang sesungguhnya yang dapat diidentifikasi pada gambar di peta (tanda taktis) seperti puncak gunung, bukit, tanjung, dll.

3. Menggunakan kompas cari azimuth magnetis dua titik tersebut, lalu ubah ke azimuth peta. Hitung pula back azimuth petanya. Lalu tarik garis lurus dari kedua titik tersebut dan akan saling berpotongan di satu titik. Titik itulah posisi kita berada.

4. Langkah terakhir bandingkan posisi kita di medan sesungguhnya serta keadaan alam sekitar dengan posisi kita di peta dan alam sekitarnya di peta (Orientasi Medan). Misalkan kita berada pada sebuah punggung bukit di medan sesungguhnya tetapi hasil resection kita berada di sebuah lembah di peta maka resection kita perlu diulangi.

Contoh Resection : Dua tanda taktis dapat diketahui pada peta yaitu titik A dan B. Dengan kompas kita cari azimuth magnetisnya kedua titik tersebut dari posisi kita berada, lalu ubah ke azimuth peta. Azimuth peta titik A adalah 30 dan titik B adalah 310. Dengan perhitungan back azimuth kita tarik garis 30 + 180 = 210 dari titik A dan 310 – 180 = 130 dari titik B. Maka akan didapat satu titik perpotongan. Titik itulah posisi kita berada.

Bagaimana menentukan posisi kita apabila hanya ada satu tanda taktis? Ada beberapa cara yang bisa dipakai. Pertama, kalau kita berada dijalan setapak, pingir sungai, rel kereta, atau gambar lainnya yang tertera pada pada peta, maka perpotongan antara garis yang ditarik dari satu tanda taktis dengan jalan setapak tersebut adalah posisi kita. Cara kedua apabila kita membawa Altimeter. Perpotongan antara garis yang ditarik dari satu tanda taktis dengan kontur ketinggian sesuai altimeter adalah posisi kita.

image64

Adakalanya telah diketahui posisi kita pada peta, tetapi ada suatu tempat di depan kita yang tidak diketahui letaknya pada peta. Untuk mengetahuinya kita menggunakan teknik Intersection yang pada prinsipnya sama dengan resection. Pertama-tama diketahui dua titik di medan yang dapat diketahui pada peta. Lalu dari kedua titik tersebut dicari azimuth magnetis tempat tersebut menggunakan kompas. Ubah ke azimuth peta, lalu tarik garis dari kedua titik yang diketahui. Titik potong garis itu adalah tempat yang ingin diketahui

Contoh Intersection : Dua titik pada medan sesungguhnya diketahui pada peta yaitu titik C dan D Dengan kompas kita bidikkan ke arah satu titik yang ingin diketahui,tentukan azimuth magnetis, lalu ubah ke azimuth peta. Tarik garis lurus berdasar azimuth peta (tanpa perhitungan back azimuth) dari titik C dan D. Maka perpotongan garis yang didapat merupakan titik yang ingin diketahui.

KOMPAS

1. Guna Kompas

Kompas adalah alat penunjuk arah. Karena sifat kemagnetannya, jarum kompas akan selalu menunjuk arah Utara-Selatan (jika tidak dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya magnet lainnya selain magnet bumi). Tetapi perlu diingat bahwa arah yang ditunjuk oleh jarum kompas tersebut adalah arah yang ditunjuk oleh jarum kompas tersebut adalah arah Utara Magnetis Bumi. Jadi bukan utara bumi sebenarnya.

2. Bagian-bagian Kompas

Secara fisik, kompas terdiri dari:

  1. Badan

Tempat komponen-komponen kompas lainnya berbeda.

b. Jarum

Selalu menunjuk arah Utara-selatan pada posisi bagaimanapun (dengan syarat, kompas tidak dipengaruhi oleh medan magnet lain dan jarum tidak terhambat perputarannya).

c. Skala Penunjuk

Menunjukkan pembagian derajat sistem mata angin.

3. Jenis-jenis Kompas

Banyak macam kompas yang dapat dipakai dalam suatu perjalanan. Pada umumnya, dipakai dua jenis kompas, yaitu kompas bidik (misal, kompas prisma) dan kompas orienteering (misal, kompas silva). Kompas bidik mudah untuk membidik, tetapi dalam pembacaan dipeta perlu dilengkapi dengan busur derajat dan penggaris (segitiga). Kompas orienteering kurang akurat jika dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu dalam pembacaan dan perhitungan dipeta.

4. Pemakaian Kompas

Kompas dipakai dengan posisi horizontal sesuai dengan arah garis medan magnet bumi. Dalam memakai kompas, perlu dijauhkan dari pengaruh benda-benda yang mengandung logam, seperti pisau, golok, karabiner, jam tangan, dan lainnya. Kehadiran benda-benda tersebut akan mempengaruhi jarum kompas sehingga ketepatannya akan berkurang.

TEKNIK PETA KOMPAS

Orientasi Peta

Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (secara praktis, menyamakan Utara Peta dengan Utara Sebenarnya). Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada di lokasi, ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama gunung, bukit, sungai, ataupun tanda-tanda medan lainnya, atau dengan mengamati kondisi bentang alam yang terlihatdan mencocokkan dengan gambaran kontur yang ada dipeta. Untuk keperluan praktis, Utara kompas (Utara Magnetis) dapat dianggap satu titik dengan Utara Sebenarnya, tanpa memperhitungkan adanya deklinasi.

Langkah-langkah orientasi peta:

  1. Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang mencolok.
  2. Letakkan peta pada bidang datar .
  3. Samakan Utara Peta dengan Utara kompas,dengan demikian letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi.
  4. Cari tanda-tanda medan yamg paling menonjol disekeliling dan temukan tanda-tanda tersebut di dalam peta. Lakukan untuk beberapa tanda-tanda medan.
  5. Ingat tanda-tanda medan itu,bentuknya dan tempatnya di medan sebenarnya maupun di peta. Ingat hal-hal yang khas dari setiap tanda medan.